Survei demi survei menunjukkan alasan nomor satu pasangan Indonesia menunda menikah: biaya. Tapi "belum ada uangnya" sering kali bukan soal penghasilan — melainkan belum ada sistemnya. Artikel ini membahas sistem menabung nikah yang benar-benar jalan.
Langkah 1: Tentukan angka target, bukan angka angan
"Pokoknya ngumpulin dulu sebanyak-banyaknya" adalah resep gagal. Mulai dari sebaliknya: rancang dulu pernikahan seperti apa yang kalian mau (skala tamu, konsep, kota), hitung estimasinya, baru turunkan jadi target bulanan.
Rumusnya sederhana: Target ÷ jumlah bulan sampai hari H = setoran per bulan. Contoh: Rp60 juta ÷ 20 bulan = Rp3 juta/bulan berdua, alias Rp50 ribu/hari/orang. Angka harian ini penting — Rp50 ribu per hari terasa jauh lebih bisa dieksekusi daripada "Rp60 juta".
Langkah 2: Pisahkan rekeningnya
- Buka satu rekening/kantong khusus nikah, terpisah dari rekening harian. Uang yang kelihatan akan terpakai.
- Otomatiskan: pasang autodebet tiap tanggal gajian, sebelum uang sempat "mampir" ke jajan.
- Sepakati porsi kontribusi berdua sejak awal — 50:50, proporsional gaji, atau model lain. Yang penting tertulis dan disepakati.
Langkah 3: Taruh di instrumen yang tepat
Dana nikah adalah dana jangka pendek (1–2 tahun) — prioritasnya aman dan pasti, bukan cuan maksimal. Umumnya cocok di tabungan berjangka atau deposito. Hindari menaruh dana nikah di instrumen berisiko tinggi; jangan sampai tanggal sudah dekat, dana malah menyusut. (Sesuaikan dengan profil kalian — ini bukan saran investasi.)
Langkah 4: Pantau berdua, rayakan progresnya
Tabungan nikah adalah proyek dua orang. Buat progresnya terlihat: berapa persen tercapai, berapa hari lagi, on-track atau tidak. Pasangan yang melihat progres bersama lebih jarang "bocor" karena saling menjaga.
Biar hitungannya otomatis
Di SiapSah, kalian tinggal isi target dan tanggal — sistem menghitung setoran harian/bulanan dan memantau progresnya berdua. Gratis, tanpa kartu kredit.
Buat Rencana Tabungan